Kèjhung & Tanda': Potret Kearifan Lokal Etnik Madura



 Kèjhung & Tanda':

Potret Kearifan Lokal Etnik Madura



Madura dikenal memiliki budaya yang khas, unik, stereotipikal, dan stigmatik. Penggunaan istilah khas menunjuk pada pengertian bahwa entitas etnik Madura memiliki kekhususan di bidang seni dan budaya, termasuk sastra lisan yang tidak serupa dengan etnografi komunitas etnik lain di Indonesia. Salah satunya sastra lisan kèjhung.

Dalam istilah Jawa, kèjhung sejajar dengan kidung karena caranya yang dilagukan. Menurut Poerwadarminta dalam Ilham (1994:12), kidung sama artinya dengan tembang atau rerepen lagu, nyanyian, sedangkan ngidung (dalam Madura: ngèjhung) berarti nembang (menyanyi) atau mengarang tembang dengan menggubah lagu.

Secara substantif kèjhung merupakan nyanyian tradisional yang diiringi dengan gamelan beserta tarian. Ketiganya tersebut selalu berimbang, nyanyian yang landai dan pelan selalu beriringan dengan musik gamelan yang merambat dan tarian lambat, demikian juga apabila nyanyian tersebut meninggi dan terdengar cepat akan diikuti oleh musik dan tarian yang juga cepat. Dibalik pesan tersirat tersebut sebenarnya di dalam kèjhung menawarkan cara bersikap yang seimbang, harmonis, dan selalu berirama sesuai dengan hukum alam.

Kèjhung sudah digunakan sebagai salah satu wahana untuk melihat sisi lain budaya Madura. Di dalamnya terdapat ekspresi gambaran masyarakat religius (kèjhung bhabulangan), masyarakat kecil (kèjhung tayuban), dan masyarakat modern (kèjhung ul-gaul). Bagi sebagian etnik Madura kèjhung merupakan media hiburan yang di dalamnya terdapat berbagai pembelajaran budaya. Budaya tutur, berpakaian, sikap, dan solidaritas pada sesama.
Lebih baru Lebih lama