ASWAJA Meneguhkan Faham Aswaja di Tengah berbagai Ideologi yang Berkembang

 










ASWAJA

Meneguhkan Faham Aswaja 

di Tengah berbagai Ideologi yang Berkembang


Penulis:

Dr. Heru Setiawan, M.Pd.i



Sejarah mencatat Aswaja lahir sebagai respons terhadap perdebatan teologi seperti Khawarij, Syiah, dan Mu'tazilah. Dalam dinamika modern, posisi Aswaja tetap relevan untuk menyikapi benturan ideologi, baik aliran yang cenderung sangat liberal maupun aliran transnasional yang radikal

Di tengah keberagaman kelompok Islam, Aswaja An-Nahdliyah bersikap akomodatif terhadap kebudayaan lokal. Prinsip ini sangat terkenal dengan kaidah al-muhafazah 'ala al-qadim al-salih wa al-akhdhu bi al-jadid al-aslah (melestarikan tradisi lama yang baik dan mengambil budaya baru yang lebih baik). Hal inilah yang membuat Aswaja NU mampu meredam konflik dan menyelaraskan ajaran agama dengan nilai-nilai nasionalisme serta budaya Nusantara

Meneguhkan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah di tengah berbagai aliran dilakukan melalui pendekatan moderat, penguatan tradisi, dan literasi digital. Strategi ini memastikan nilai keislaman tetap relevan, adaptif terhadap budaya lokal, dan mampu membentengi umat dari paham ekstrem maupun liberal.

Strategi utama dalam meneguhkan Aswaja An-Nahdliyah meliputi: (1) Penerapan Nilai Dasar (Mabadi Khaira Ummah): Mengamalkan prinsip \(Tawassuth\) (moderat), \(Tasamuh\) (toleran), \(Tawazun\) (seimbang), dan \(I'tidal\) (adil) dalam kehidupan sehari-hari. (2) Penguatan Amaliyah dan Tradisi: Melestarikan kegiatan keagamaan seperti tahlil, istighosah, dan maulid sebagai benteng spiritual yang menyatukan umat.  (3) Adaptasi Dakwah Digital: Memaksimalkan penyebaran konten keislaman yang sejuk dan edukatif melalui media sosial untuk menjangkau generasi muda. (4) Pendidikan Berbasis Pesantren: Menanamkan manhaj (metode berpikir) Aswaja sejak dini guna membangun karakter Muslim yang kritis, santun, andal, serta mandiri


Lebih baru Lebih lama